Artikel Aksi Nyata Budaya Positif
Eka Fitria,S.Si.,M.Pd
SMA Negeri 7 Palembang, CGP Angkatan 11 Kota Palembang
e-mail : ekafitria02@guru.sma.belajar.id
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan fondasi penting dalam
membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam proses pendidikan, peran
guru sangat krusial tidak hanya dalam mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga
dalam membentuk karakter dan perilaku siswa. Salah satu aspek penting dalam
proses pembelajaran adalah penerapan disiplin di kelas. Namun, pendekatan
disiplin tradisional yang cenderung bersifat hukuman seringkali kurang efektif
dan dapat berdampak negatif pada perkembangan psikologis siswa. Oleh karena
itu, diperlukan pendekatan baru yang lebih positif dan konstruktif dalam
menerapkan disiplin di lingkungan pendidikan.
Disiplin positif merupakan pendekatan yang menekankan
pada pengembangan keterampilan sosial, emosional, dan perilaku siswa melalui
cara-cara yang menghormati hak dan martabat mereka. Pendekatan ini bertujuan
untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, supportif, dan
kondusif bagi perkembangan optimal siswa. Rencana aksi nyata ini bertujuan
untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam menerapkan disiplin
positif di kelas. Fokus utamanya adalah mengembangkan strategi-strategi praktis
yang dapat langsung diimplementasikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang
positif, menghargai martabat siswa, dan mendorong perkembangan karakter mereka.
Budaya positif
adalah kebiasaan penerapan nilai-nilai kebajikan untuk mencapai
keselarasan hidup berperilaku sesuai keyakinan yang mengarah ke dalam
keselamatan dan kebahagiaan hidup. Budaya positif dapat diwujudkan di
sekolah dengan menerapkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan
kebiasaan-kebiasaan yang berpihak pada murid. Tujuannya adalah agar murid
dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat, dan bertanggung
jawab. Budaya positif yang diterapkan di sekolah
adalah salah satu perwujudan dari visi guru yang mengandung nilai-nilai
kebajikan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang dijabarkan dalam profil
pelajar Pancasila. Budaya positif yang diterapkan di sekolah seharusnya menjadi
suatu pembiasaan sehingga mendorong murid untuk melakukannya dengan kesadaran
diri tanpa paksaan.
B. Tujuan
Kegiatan
- Menumbuhkan keterlibatan siswa dalam membentuk keyakinan kelas dan menumbuhkan nilai-nilai kebajikan.
- Menumbuhkan budaya positif disekolah dengan meyakini nilai-nilai kebajikan universal.
- Mengambil posisi kontrol sebagai manager dan melaksanakan segitiga restitusi dalam menyelesaikan masalah.
- Menciptakan komunikasi yang baik antara guru dan siswa.
II.
METODE
Artikel ini
editulis menggukan
metode studi literatur dengan cara mengumpulkan bahan-bahan materi yang
bersumber dari LMS guru penggerak,
jurnal, dan sumber lainnya terkait tentang Budaya positif di sekolah.
A.
Tolak Ukur
1.
Terjalinnya Komunikasi yang baik antara guru, siswa
dan warga sekolah
2.
Terbentuknya keyakinan kelas
3.
Tumbuhnya nilai-nilai kebajikan pada diri siswa
4. Guru mampu menerapkan posisi manager dan
menggunakan segitiga restitusi dalam pemecahan masalah.
5.
Siswa manpu menemukan solusi dari masalah yang
dihadapinya.
6. Siswa merasa aman dan
nyaman selama berada
di sekolah serta dapat
meningkatkan motivasi belajarnya
7.
Siswa memiliki karakter yang kuat sesuai profil
pelajar pancasila
B.
Lini masa tindakan yang
akan dilakukan:
1.
Menyusun
perencanaan pada tanggal 5 Agustus
2024
2. Meminta
dukungan dari atasan untuk merealisasikan rencana pada tanggal 6 Agustus 2024
3.
Membuat
kesepakatan kelas di kelas X3 pada tanggal 9 Agustus
2024
4. Meminta
murid membuat refleksi setelah mempunyai pengalaman dalam menyusun kesepakatan
kelas secara bersama pada tanggal 9 Agustus
2024
5. Mendalami
kembali modul 1.4 tentang segitiga restitusi dan menemu kenali kebutuhan dasar siswa
pada tanggal 10 Agustus 2024
6.
Melaksanakan
segitiga restitusi di kelas X3
bagi siswa yang melanggar keyakinan kelas pada tanggal 12 Agustus 2024
7.
Menemukenali
kebutuhan dasar siswa yang melanggar aturan sekolah pada tanggal 12 Agustus 2024
8. Menerapkan
peran kontrol sebagai manajer ketika melakukan restitusi pada tanggal 12 Agustus 2024
9.
Meminta
murid membuat refleksi setelah mengikuti segitiga restitusi dan meminta umpan
balik dari murid pada tanggal 12-13 Agustus 2024
10. Berbagi
pengalaman praktik baik dalam menerapkan budaya positif di kelas kepada rekan
guru pada tanggal 19 Agustus 2024.
C. Dukungan yang dibutuhkan:
1. Dukungan yang dibutuhkan :
Dukungan dan izin kepala Sekolah, rekan guru, partisipasi
siswa,
Komite dan orang tua siswa
dalam melakukan budaya positif di rumah.
Laptop, kertas stikcy note, spidol, papan tulis dan
tata tertib sekolah, ppt
tentang keyakinan kelas
III.
PEMBAHASAN
A.
Budaya Positif
Budaya positif di sekolah sangatlah penting untuk mengembangkan
anak-anak yang memiliki karakter yang kuat, sesuai profil pelajar
Pancasila. Kita harus memahami pentingnya membangun budaya positif di
sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan
yang berpihak pada murid untuk mencapai visi sekolah. Guru berperan
sebagai seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam menggerakkan dan
memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini, dan menerapkan visi atau
nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif yang
berpihak pada murid.
Budaya positif diawali dengan adanya perubahan
paradigma tentang teori kontrol. Sebagai pendidik kita merasa
berkewajiban untuk mengontrol perilaku murid supaya memiliki perilaku sesuai
dengan harapan guru. Dengan adanya kontrol dari guru maka akan terjadi
keselarasan yang seimbang sehingga akan tercipta budaya positif.
B.
Disiplin
Positif dan Nilai Kebajikan Universal
1.
Disiplin Positif
Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan
motivasi yang ketiga pada murid-murid kita
yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri
dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki
motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak
jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau
hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai
kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai
yang mereka hargai, atau mencapai suatu tujuan mulia. Seseorang yang memiliki
disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang
dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai
kebajikan universal. Dalam hal ini Ki Hajar menyatakan; Sebagai pendidik,
tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga
mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan
memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
2.
Nilai-Nilai Kebajikan Universal
Dalam rangka menciptakan lingkungan yang positif maka
setiap warga sekolah dan pemangku kepentingan perlu saling mendukung, menghayati, dan menerapkan
nilai-nilai kebajikan yang telah disepakati bersama. Nilai-nilai kebajikan
universal sendiri berarti nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, lepas
dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya. Nilai-nilai ini
merupakan ‘payung besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini
merupakan fondasi kita berperilaku. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat
positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu.
Nilai-nilai
kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia yang kita kenal dengan
Profil Pelajar Pancasila, Yaitu : Beriman,
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar
Kritis, Berkebinekaan Global, Bergotong
royong, dan Kreatif. IBO
Primary Years Program (PYP) Sikap
Murid, yaitu : Toleransi, Rasa Hormat, Integritas, Mandiri, Menghargai,
Antusias, Empati, Keingintahuan, Kreativitas, Kerja sama, Percaya Diri, dan
Komitmen
C.
Teori Motivasi,
Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
a)
3 Motivasi Perilaku Manusia
Diane
Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi
perilaku manusia:
1. Untuk menghindari
ketidaknyamanan atau hukuman
Ini adalah tingkat terendah dari motivasi
perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari
hukuman atau ketidaknyamanan. Motivasi ini bersifat eksternal
2. Untuk mendapatkan imbalan
atau penghargaan dari orang lain.
Satu tingkat di atas motivasi yang pertama,
disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang
lain. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau
imbalan. Motivasi ini juga bersifat eksternal.
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan
dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
Ini adalah motivasi yang akan membuat
seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat
internal, bukan eksternal.
b) Hukuman dan Penghargaan
Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan
kelas/sekolah, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi.
Untuk itu kita perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan
kelas/sekolah kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya
berbentuk hukuman atau konsekuensi.
kita
bisa menyimpulkan bahwa hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak
atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman
bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu
hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik
sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun
psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata. Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993,
Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik
penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang
menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn,
secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya.
D.
Keyakinan
Kelas
Selama ini
ketika kita berada di kelas, guru membuat peraturan dan murid harus mengikuti
peraturan yang sudah dibuat oleh guru tanpa mengajak murid untuk mengemukan
pendapatnya. Dengan hal ini, saya mengajak guru untuk mengubah pandangan dari
peraturan itu menjadi keyakinan kelas yang sebelum dilaksanakan untuk didiskusikan
secara bersama sehingga menjadi keyakinan
kelas. Keyakinan kelas
dibuat berdasarkan kesepakatan antara guru dan siswa, bersifat universal. Peraturan biasanya dibuat oleh guru, bersifat satu
arah.
Prosedur
Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas:
- Mempersilakan warga sekolah atau murid-murid untuk bercurah ide tentang peraturan yang perlu disepakati
- Mencatat semua masukan-masukan
- Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur Gantilah kalimat negatif menjadi positif.
- Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah terkumpul dan susun menjadi keyakinan kelas / sekolah
- Tinjau ulang Keyakinan Sekolah/Kelas yang sudah tersusun ( 3-7 prinsip/keyakinan)
- Meninjau ulang, dan menyetujuinya dengan menandatanganinya guru dan semua warga/murid.
- Keyakinan Sekolah/Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah dilihat semua warga kelas.
Gambar 1. Dokumentasi Membuat Keyakinan Kelas
E. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas
Kebutuhan Dasar Manusia
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus diisi. Ibarat baterai, apabila
habis maka ketika akan digunakan maka akan membuat benda tersebut tidak dapat
digunakan kembali. Kebutuhan dasar manusia yang harus diisi adalah:
a. Kebutuhan
untuk bertahan hidup yaitu kebutuhan dalam pemenuhan pangan dan bagaimana cara
untuk bertahan hidup.
b. Kebutuhan
kasih sayang, setiap manusia membutuhkan kasih sayang sebagai keberangsungan
hidupnya.
c.
Kebutuhan
kesenangan yaitu kebutuhan akan rasa untuk mendapatkan kepuasan dan kebahagian.
d. Kebutuhan
akan kebebasan yaitu kebutuhan untuk merasa tidak diatur dan memiliki control
terhadap diri sendiri.
e.
Kebutuhan
penguasaan yaitu kebutuhan untuk mendapatan pengakuan bahwa dia dapat melakukan
sesuatu dan bias mengintrol orang untuk melakukan apa yang dia inginkan.
F. 5 Posisi Kontrol
Posisi Kontrol
Manusia merasa bahwa kita bias mengontrol orang lain untuk melakukan sesuatu,
padahal itu hanya ilusi. Menurut Dr. William Glasser, ada ilusi yang selama ini
kita percayai:
· Ilusi
bahwa guru bisa mengontrol murid
· Ilusi
bahwa dengan adanya kritik dan membuat rasa bersalah akan memberikan penguatan
karakter
· lusi
bahwa dengan memberikan penghargaan akan mebuat menjadi produktif dan
bermanfaat
· Ilusi
bahwa orang dewasa memiliki control untuk mengatur anak-anak Diatas adalah
ilusi yang selama ini kita percayai.
Selain itu ada posisi control yang wajib kita
ketahui sebagai pendidik dan posisi yang mana sebaiknya kita lakukan. Posisi
tersebut ada lima yaitu;
1.
Posisi
sebagai penghukum
2.
Posisi
sebagai pembuat rasa bersalah
3.
Posisi
sebagai teman
4.
Posisi
sebagai pemantau
5.
Posisi sebagai manajer
Diantara 5 posisi tersebut,
menurut saya posisi sebagai manajer adalah posisi yang paling baik, karena kita
mebuat diskusi dan interaksi sehingga memberikan rasa kenyamanan dan memberikan
solusi yang baik atau win-win solution.
G. Segitiga Restitusi
Segitiga restitusi digunakan untuk
mengubah suatu tindakan yang salah untuk diperbaiki agar menjadi tindakan yang
baik sehingga bias menguatkan karakter siswa menadi yang bertanggungjawab dan
lebih kuat. Tiga
tahapan segitiga restitusi didasarkan pada prinsip-prinsip utama
dari Teori Kontrol, yaitu:
Tabel
1. Tahapan Segitiga Restitusi
|
Langkah |
Teori Kontrol |
|
|
1 |
Menstabilkan Identitas Stabilize the Identity |
Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan |
|
2 |
Validasi
Tindakan yang Salah Validate the Misbehaviour |
Semua perilaku memiliki alasan |
|
3 |
Menanyakan Keyakinan Seek the Belief |
Kita semua memiliki motivasi internal |
1. Menstabilkan
identitas, yang bertujuan untuk mengubah rasa bersalah atau kegagalan menjadi
kesuksesan.
2. Validasi
tindakan yang salah adalah prosesuntuk memahami kebutuhan murid yang bertujuan
menguatkan murid tujuan mereka melakukan kegiata tersebut.
3.
Menanyakan
keyakinan adalah proses dimana murid dapat menghubungkan dirinya dengan nilai kebajikan
dan keyakinan yang dipercayai.
Ketiga strategi
tersebut
direpresentasikan
dalam 3 sisi
segitiga restitusi.
Langkah -langkah
tersebut tidak harus dilakukan satu persatu secara kaku. Banyak guru yang udah menggunakannya dalam berbagai versi menurut gaya mereka masing-masing bahkan tanpa
mengetahui
tentang teori restitusi.
H. Kegiatan Desiminasi Aksi Nyata
Sebelum pelaksanaan kegiatan
desiminasi tahapan kegiatan yang saya lakukan adalah di mulai dari menyusun perencanaan. Selanjutnya
saya menemui kepala sekolah SMA Negeri 7 Palembang Ibu Dra. Nurdwin Indriyanti meminta dukungan dari atasan
untuk merealisasikan rencana kegiatan
desiminasi kepada rekan guru. Selanjutnya yang saya lakukan adalah membuat kesepakatan kelas di
kelas, meminta
murid membuat refleksi setelah mempunyai pengalaman dalam menyusun kesepakatan
kelas secara bersama. Kemudian saya belajar mendalami kembali modul 1.4 tentang
segitiga restitusi dan menemu kenali
kebutuhan dasar siswa. Melaksanakan
segitiga restitusi di kelas bagi siswa yang melanggar keyakinan kelas. Menemukenali kebutuhan
dasar siswa yang melanggar aturan sekolah. Menerapkan
peran kontrol sebagai manajer ketika melakukan restitusi, meminta murid membuat
refleksi setelah mengikuti segitiga restitusi dan meminta umpan balik dari
murid. Berbagi
pengalaman praktik baik dalam menerapkan budaya positif di kelas kepada rekan
guru pada tanggal 19 Agustus 2024.
Kegiatan
aksi nyata yang saya lakukan bisa di lihat di video youtube saya :
https://www.youtube.com/watch?v=ZfM_q-mW19Y
IV. KESIMPULAN
Budaya
positif adalah kebiasaan penerapan nilai-nilai kebajikan untuk mencapai
keselarasan hidup berperilaku sesuai keyakinan yang mengarah ke dalam
keselamatan dan kebahagiaan hidup. Kegiatan desiminasi budaya positif
dilakukan supaya saya dapat berkolaborasi bersama kepala sekolah, teman sejawat
dan harapannya dapat bekerjasama kedepannya untuk menciptakan dan menerapkan
budaya positif di sekolah kami. Semua warga sekolah harus terus bekerjasama
menjalin komunikasi yang efektif dalam mewujudkan visi dan misi prakarsa perubahan dalam menguatkan karakter
positif serta melahhirkan generasi yang berkarakter profil pelajar pancasila.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.youtube.com/watch?v=ZfM_q-mW19Y
https://lms.guru.kemdikbud.go.id/courses/47728/pages/1-dot-4-f-dot-3-keyakinan-kelas
https://lms.guru.kemdikbud.go.id/courses/47728/pages/1-dot-4-f-dot-5-restitusi-lima-posisi-kontrol
https://lms.guru.kemdikbud.go.id/courses/47728/pages/1-dot-4-f-dot-6-restitusi-segitiga-restitusi





Komentar
Posting Komentar